skripsi

Artikel Tentang Daging Sapi

Dimana lagi kalau bukan unikbaca

Artikel tentang daging sapi daging sapi (Bahasa Inggris: beef) adalah jaringan otot yang diperoleh dari sapi yang biasa dan umum digunakan untuk keperluan konsumsi makanan. Di setiap daerah, penggunaan daging ini berbeda-beda tergantung dari cara pengolahannya. Sebagai contoh has luar, daging iga dan T-Bone sangat umum digunakan di Eropa dan di Amerika Serikat sebagai bahan pembuatan steak sehingga bagian sapi ini sangat banyak diperdagangkan. Akan tetapi seperti di Indonesia dan di berbagai negara Asia lainnya daging ini banyak digunakan untuk makanan berbumbu dan bersantan seperti sup konro dan rendang.

Selain itu ada beberapa bagian daging sapi lain seperti lidah, hati, hidung, jeroan dan buntut hanya digunakan di berbagai negara tertentu sebagai bahan dasar makanan. Memang secara global semua produksi daging seperti sapi, babi, ayam dan ikan bertanggung jawab untuk +/- 20% untuk gas yang menyebabkan pemanasan global (global warming) yang terdiri dari 9% gas CO2, 37% gas metana dan 65% gas nitro oksida. Gas metana adalah 23 kali lipat lebih berbahaya dari CO2 dan gas nitro oksida 296 kali lipat lebih berbahaya dari CO2.

Komparasinya adalah: Gas metana yang diperlukan untuk memproduksi 170 gram daging sapi dapat disamakan dengan gas karbon dioksida yang dihasilkan dari pemakaian lampu pijar selama 100 jam! Itu baru produksinya saja, belum ditambah biaya transportasi dan biaya masak dengan tabung gas.

Fakta tentang daging sapi
Seekor sapi dewasa dengan bobot 500 kg akan memerlukan 50 kg tanaman hijau per hari (kira-kira 10% dari bobot hidup). Kalau suatu sentra peternakan memiliki 5.000 ekor sapi, maka sentra tersebut akan memerlukan 250 ton makanan hijau setiap harinya atau 15.000 ton per dua bulan. Rumput gajah baru bisa dipanen setiap selang 2 bulan. Kalau untuk setiap hektar tanah bisa dihasilkan 20 ton hijauan per 2 bulan, maka untuk memenuhi kebutuhan satu sentra itu saja memerlukan 15.000 ton/20 ton = 750 Ha lahan hanya untuk menanam rumput gajah. Petani di Indonesia tidak akan ada yang memiliki lahan begitu luas. Makanya sapi-sapi di Indonesia kita lihat kurus-kurus. Itu malah jadi semakin tidak efisien karena dengan perbandingan umur dan hasil daging serta harga jual jadi tidak sebanding. Kalau sapi itu makan biji-bijian seperti gandum, jagung atau lainnya maka untuk mendapatkan 1 kg daging sapi diperlukan 7 kg makanan biji-bijian.

Kita cukup beruntung karena tinggal di Indonesia yang masih menggunakan begitu banyak sayuran dalam menu makanan. Ada gado-gado, karedok, tempe/tahu goreng, dan lainnya. Ada yang bilang orang Indonesia diberi lalap dan sambel juga bisa hidup. Tetapi karena berubahnya waktu dan kebudayaan maka gaya hidup kita pun berubah lebih memakan daging, apalagi dengan meningkatnya taraf hidup. Memang kita sangat membutuhkan protein dari daging terutama hewani. Tapi hewan macam apa. Juga lebih baik lagi kalau kita bisa menyisihkan 1 hari per minggu untuk makan sayur-sayuran saja. Makan sayur kan sehat, bisa sekalian detox, memperlancar pencernaan, dll. Mungkin dengan cara ini kita juga bisa mengurangi impor daging sapi dan swasembada daging lokal.

Sebagai solusi lain untuk sentra peternakan sapi, perlu pemanfaatan gas metana sebagai energi alternatif untuk memasak dan listrik sehari-hari. Nanti kita bahas lagi tentang hal ini lebih lanjut.Yang pasti, semua upaya kita akan tercermin ke gaya hidup yang lebih baik, sehat dan terus membantu lingkungan.