skripsi

Cara Mengatasi Kurang Tidur

Dimana lagi kalau bukan unikbaca

Cara mengatasi kurang tidur kurang maupun cara mengatasi kurang tidur kelebihan tidur sama-sama merupakan masalah. Cara mengatasi kurang tidur gangguan tidur ada yang bisa diatasi sendiri, ada pula yang perlu penanganan ahli. Apa saja penyebabnya dan bagaimana mengatasinya? Tidur merupakan kebutuhan pokok bagi manusia. Sebagaimana mesin butuh diperbaiki, tubuh juga perlu mendapat energi baru. Dengan tidur yang cukup dan berkualitas, kita dapat mengawali hari baru dengan tubuh segar dan pikiran jernih.

Menurut penelitian, setiap manusia menghabiskan seperempat sampai sepertiga dari seluruh aktivitasnya selama sehari untuk tidur. Namun, tidak semua orang bisa menikmati tidurnya dengan enak. Berbagai masalah menyebabkan seseorang tidak bisa atau sulit tidur nyenyak.

Celakanya, hampir semua orang pernah mengalami kesulitan tidur. Berdasar sebuah penelitian, diketahui bahwa satu dari tiga orang mengalami gangguan dan satu dari sembilan orang memiliki masalah tidur yang cukup serius. Sudah pasti kondisi susah tidur itu berakibat pada munculnya berbagai keluhan.

Menurunnya konsentrasi, terganggunya mood atau suasana hati sehingga membuat mudah marah dan tersinggung, mudah cemas dan depresi, menurunnya daya tahan tubuh, mudah capai, penampilan terganggu, sakit, adalah efek yang bakal terjadi bila kita kekurangan tidur.

Sebuah penelitian tentang masalah tidur pernah dilakukan di Amerika terhadap ratusan pria dengan interval usia antara 25-60 tahun. Para responden itu diminta untuk tidak tidur selama berhari-hari.

Hasilnya, setelah 4-8 hari (tergantung kemampuan masing-masing responden), belum tampak kemerosotan fisik yang serius. Setelah masa itu, dalam 24 jam tidak tidur, gejala gangguan mental serius sudah terlihat, seperti cepat marah, memori hilang, timbul halusinasi, ilusi, dan lainnya. Namun, gangguan itu bisa diatasi dengan memberi kesempatan orang-orang itu tidur secukupnya.

Tubuh dan Otak
Menurut Dr. Hermawan Suryadi, Sp.S dari Klinik Neuropsikiatri dan Revitalisasi, Jakarta, tidur tidak hanya mengistirahatkan tubuh, tapi juga otak. Serebral korteks, yakni bagian otak utama atau fungsi mental tertinggi yang digunakan untuk mengingat, membayangkan atau memvisualisasi, menilai dan memberikan alasan, merupakan organ penting yang harus mendapat prioritas untuk aktivitas tidur.

Sejumlah ahli pernah meneliti hubungan otot dan otak atau pikiran saat manusia tidur. Ternyata ditemukan bahwa pada saat tidur, pikiran dan otot-otot saling merangsang satu sama lain. Ketegangan otot menyebabkan korteks (lapisan luar otak yang berwarna kelabu) terus aktif, sedangkan ketegangan otak menyebabkan otot terus aktif. Kelelahan akan mengurangi irama kerja otot, demikian juga di kala beristirahat, sehingga semua ini akan menurunkan kegiatan dalam korteks.

Aktivitas korteks yang menurun akan menyebabkan otot-otot semakin rileks. Begitu rangsangan antara pikiran dan otot menurun, kita akan mengantuk lalu tertidur. Selagi tidur inilah jantung berdetak lebih lamban, tekanan darah menurun, pembuluh darah melebar, dan suhu badan juga menurun sekitar 0,5 derajat Fahrenheit, tapi perut dan usus tetap bekerja.

Selama tidur, tubuh sekali-kali akan bergerak. Gerakan sebanyak 20-40 kali masih dianggap normal. Lebih dari itu berarti orang tersebut sedang mengalami gangguan. Gangguan muncul akibat kurang sinkronnya kerja pikiran dan otot. Pikiran kita akan sulit tertidur bila otot masih tegang. Sebaliknya, akan sulit bagi otot untuk tertidur jika pikiran tidak tenang.

Orang dikatakan sehat dan normal bila begitu naik ke atas tempat tidur, kurang lebih 30 menit sudah tertidur. Bahkan ada orang yang begitu mencium bantal, dalam waktu 3-5 menit sudah langsung tertidur. Untuk sampai ke arah itu memang butuh banyak kondisi, misalnya kamar, tempat tidur, atau bantal yang nyaman, dan sebagainya.

Kenali Gejala
Dengan memahami proses seperti ini Dr. Tb. Erwin Kusuma, Sp.KJ, psikiater Klinik Spesialis dan Keluarga Prorevital Jakarta, menyatakan bahwa persoalan tidur bukan hal sederhana.

Tidak hanya kurang tidur yang bisa menjadi masalah, tapi juga kelebihan tidur. Sebab, kualitas tidur tidak terletak pada banyaknya waktu yang kita gunakan, tapi tergantung dari sejauh mana otak, otot, dan jiwa berkonsolidasi saat tidur.

Dr. Suryantha Chandra, Sp.KJ, psikiater dari Sanatorium Dharmawangsa menjelaskan bahwa gangguan tidur bisa dibagi menjadi tiga bentuk, yakni: insomnia, hyperinsomnia, dan parasomnia. Insomnia adalah sulit untuk jatuh pulas dan mempertahankan tidur. Hypersomnia adalah gangguan tidur yang bentuknya tidur terlalu banyak, selalu ngantuk pada siang hari (somnolence), atau kadang-kadang tidur dan mengantuk terus baik siang maupun malam.

Parasomnia merupakan fenomena abnormal yang terjadi tiba-tiba selama tidur atau timbul di perbatasan antara tidur dan bangun. Gejala parasomnia antara lain sleepwalking, sleep terror yang ditandai dengan igauan, sleep paralysis. Gejala lain yang bisa kita lihat antara lain mengorok dan gigi gemerutuk. Banyak gejala gangguan itu yang tidak diketahui oleh yang bersangkutan. Namun, menurut Dr. Erwin, kita bisa mengecek apakah tidur kita benar-benar nyenyak atau tidak. Caranya, dengan memperhatikan gejala fisik dan mental yang terjadi setelah tidur.

"Biasanya kalau orang tidak tidur nyenyak, pada saat bangun badannya terasa pegal dan tidak segar, juga pikirannya," tutur dokter yang juga berpraktik di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta ini.

Gejala-gejala seperti ini mesti diperhatikan. Jika tidak, sama artinya dengan membiarkan penyakit hidup dalam diri kita. Ditegaskan Dr. Hermawan bahwa tidur adalah saat yang paling penting bagi badan untuk melakukan regenerasi sel-sel serta hormon tubuh.

"Karenanya, kurang tidur berarti kita menumpuk racun atau sampah dalam tubuh. Kalau ini terus-menerus terjadi, orang bisa cepat tua," tutur dokter yang mendapat gelar Diploma American Board of Sleep Medicine dari American Academy of Sleep Medicine.

Masih Misteri
Secara umum penyebab gangguan tidur bisa ditelusuri dari gejala yang ada (insomnia, hypersomnia, dan parasomnia). Dr. Chandra menyebutkan bahwa penyebab insomnia antara lain:

Kondisi medis yang menimbulkan rasa nyeri atau kondisi yang tidak menyenangkan. Contoh kelainan susunan saraf pusat, rematik, penyakit endokrin dan metabolik, faktor diet, dampak putus zat psikoaktif, penyakit infeksi, kanker, lanjut usia, dan lainnya. Kondisi psikiatrik atau faktor perubahan lingkungan. Contohnya: kecemasan, ketegangan, depresi, kemurungan, skizofrenia, gangguan cemas pasca trauma, baru pindah rumah, perjalanan ke luar kota atau luar negeri (jet lag), dan sebagainya.

Penyebab hypersomnia antara lain :
Kondisi medis: penyakit keturunan (genetik), menstruasi, kondisi metabolik atau toksik, encephalitic conditions (peradangan atau infeksi jaringan otak), pengobatan dengan suatu depressant (zat yang berfungsi menekan fungsi tubuh atau saraf), efek alkohol, keadaan putus zat perangsang (kokain, ekstasi, metamfetamin misalnya sabu-sabu). Narkolepsi atau sindroma menyerupai narkolepsi, sleep apnea, sindroma hipoventilasi (napas lambat dan pendek), keadaan kurang atau tidur tidak berkualitas.

Kondisi kejiwaan: depresi (sebagian), reaksi menghindar, gangguan tidur, circadian rhythm. Khusus untuk parasomnia, banyak ahli yang belum mengetahui penyebabnya. Penelitian masih berlangsung untuk persoalan satu ini. Hal ini juga ditegaskan oleh Dr. Hermawan. "Kenapa orang bisa tidur berjalan dan kenapa sering muncul gemerutuk gigi, itu menjadi masih misteri sampai saat ini," katanya.

Diagnosis Diri
Beberapa masalah tidur tersebut ada yang dapat diatasi sendiri oleh individu yang bersangkutan dan yang lain memerlukan bantuan dokter. Untuk mengatasinya kita perlu melakukan diagnosis diri atau mengenali masalah terlebih dahulu. Jika sudah bisa diketahui sendiri, tentu tidak perlu lagi konsultasi ke dokter. Misalnya, bila gangguan itu datang dari tempat tidur yang tidak nyaman, kita mesti menggantinya.

Apabila masalahnya sulit diketahui, kita butuh bantuan dokter atau psikiater untuk menyelesaikannya. Biasanya para ahli jiwa akan membantu dengan dua cara, yakni obat yang tepat serta terapi. Secara perlahan, terapis akan mengusahakan supaya obat tidak digunakan sama sekali. Kita juga bisa datang pada dokter spesialis yang kompeten soal gangguan tidur. Di sana kita akan diperiksa secara fisik dan dideteksi dengan alat untuk mencari penyebab gangguan. Sayangnya, di Indonesia alat pendeteksi gangguan tidur yang disebut polisomnografi baru ada dua, salah satunya ada di Klinik Revitalisasi(Cara mengatasi kurang tidur)