Sebagian besar pertempuran yang terjadi di Waddan Abwa hanyalah pertempuran kecil: terkadang hanya penembakan anak panah dan tanpa korban; yang kemudian menjadi awal dari konflik yang lebih besar.
Setelah Muhammad dan pengikutnya hijrah ke Madinah pada tahun 622, kaum Quraisy menyita barang mereka tinggalkan. Dari Madinah, beberapa Muslim menyerang kafilah-kafilah Quraish yang melakukan perjalanan dari Syria ke Mekah.
Pada tahun 624, Abu Sufyan memimpin salah satu kafilah, dan ketika para muslim menyergap kafilah, dia kemudian meminta bantuan dari Quraish. Hal ini kemudian mengakibatkan Perang Badar, yang berakhir dengan kemenangan Muslim.
Namun, Abu Sufyan berhasil pulang ke Mekah. Kematian para pemimpin Quraisy yang dalam pertempuran Badar menjadikannya sebagai pemimpin Mekah.
Abu Sufyan kemudian masuk Islam dan menjadi salah satu sahabat nabi setelah Muhammad menunjukkan belas kasihan kepadanya ketika Mekah dikuasai. Dalam sebuah hadist yang terkenal Abu Sufyan berkata:
“ Ini, mataku, yang telah terluka demi Allah dan Islam ”
Kafilah-kafilah Bani Dzamrah disergap. Negosiasi dimulai dan kedua pemimpin (Muhammad dan Makhsyi bin Amr Adz-Dzamrah) menyetujui perjanjian untuk tidak saling menyerang, Bani Dzamra berjanji untuk tidak menyerang Muslim atau sisi dengan Quraish. Menurut sarjana muslim al-Zurqani, isi dari perjanjian adalah sebagai berikut:
“ Surat ini adalah dari Muhammad, Rasullulah, mengenai Bani Dzamrah. Yang mana ia (Muhammad) jaga keselamatan dan keamanan dari nyawa dan harta mereka. Mereka dapat meminta bantuan dari pihak Muslim, kecuali bila mereka menentang agama Allah. Diharapkan bagi mereka untuk membantu nabi bila dimintai bantuan”

