Tidak tanggung-tanggung, perusahaan yang beralamat di Jakarta dan Singapura ini bersedia mempertimbangkan harga yang ditawarkan LPS sebesar Rp 6,7 triliun.
Siaran pers Yawadwipa dalam bahasa Inggris sepanjang dua halaman itu juga mencantumkan alamat perusahaan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Menara 2, lantai 17, CEO Suite 1701, Jakarta. Alamat kedua ada di Singapore Land Tower, lantai 37, Singapura.
Rasa ingin tahu membawa Tempo, Selasa siang lalu, menyambangi kantor Yawadwipa di gedung Bursa Efek. Namun, sesampainya di lokasi, Tempo tidak menemukan barang secuil pun tanda-tanda ada perusahaan bernama Yawadwipa di sana.
Untungnya, dua resepsionis perempuan yang menunggu di depan Suite membenarkan Yawadwipa berkantor di situ. Tapi sayang, Tempo tidak berhasil menemui dua pemimpin utama perusahaan, yakni Christoper Holm dan Prasetyo Singgih.
"Yang berkantor di sini hanya Pak Prasetyo," ujar resepsionis. Ia enggan memerinci pada pukul berapa Prasetyo kembali ke kantor. "Silakan tinggalkan kartu nama Anda," ujar dia lagi.
Selain kedua orang tersebut, kantor yang menempati setengah dari luas lantai 17 itu sepi. Jauh berbeda dengan kantor Panin Securites, yang terletak persis di depan kantor Yawadwipa.
Interior kantor lumayan nyaman dengan satu set sofa kulit lengkap. Warna cokelat dan hitam mendominasi keseluruhan interior. Ditanya lebih jauh, kedua resepsionis menolak mengomentari siaran pers yang dikeluarkan Yawadwipa.
Dari penelusuran Tempo melalui Internet, diketahui pengelola CEO Suite adalah sebuah perusahaan bernama CEO Suite Business Center & Serviced Office Jakarta.
Bisnis CEO Suite adalah jasa penyewaan kantor instan (instant office) dan kantor maya (virtual office). Menariknya, CEO Suite juga mempunyai lokasi kantor serupa di beberapa kota di Asia, salah satunya di Singapore Land Tower, lantai 37, yang tak lain adalah lokasi kantor Yawadwipa di Singapura.
Tempo.co

